
Virus Ransomware Telah Menyerang Hingga Ke 99 Negara Didunia
Jika kita melihat kembali kebelakang, pada bulan Agustus 2016 silam, Kelompok hacker yang bernama "The Shadow Brokers" mengklaim bahwa mereka telah melakukan operasinya menggunakan tool NSA (National Security Agency, yaitu sebuah agensi kriptografi milik pemerintah Amerika Serikat). Kelompok hacker ini mengklaim bahwa mereka telah melakukan aksi hacking-nya secara luas.
Awal tahun ini, kelompok hacking telah memutuskan untuk memberikan alat hack dan file secara gratis. Mereka membawanya ke media dan membagikan kata kunci untuk membuka folder file yang dienkripsi ke publik.
Nah, alat hacking yang dicuri dari NSA ini bisa digunakan untuk melakukan hacking pada komputer yang berjalan menggunakan OS Microsoft Windows. Perangkat lunak berbahaya WanaCryptor 2.0 yang juga dikenal sebagai WCry sekarang digunakan untuk melakukan salah satu serangan ransomware terbesar dari jenisnya.
Nah, Puluhan negara telah terpengaruh oleh serangan ransomware ini. Serangan tersebut mengunci komputer dan menyimpan dokumen pengguna untuk mendapatkan uang tebusan. Yang lebih mengejutkan adalah, ransomware tersebut menargetkan banyak perusahaan, instansi pemerintah, dan bahkan rumah sakit.
Peneliti keamanan di Avast telah mencatat lebih dari 57.000 deteksi ransomware WanaCryptor 2.0 di 99 negara. Dan serangan tersebut meminta korban uang tebusan yang senilai $300 dalam bentuk bitcoin.
Nah, serangan tersebut menampilkan pesan yang menginstruksikan cara membayar tebusan, penjelasan tentang serangan dan batas waktu untuk membayarnya, jika uang tebusan tidak dikirim dalam waktu yang ditentukan, maka jumlah uang tebusan itu akan naik. Inilah pesannya:

Blog keamanan Avast mengatakan "Kami melihat versi pertama WanaCrypt0r pada bulan Februari dan ransomware sudah tersedia dalam 28 bahasa yang berbeda, dari bahasa-bahasa seperti bahasa Bulgaria sampai bahasa Vietnam."
Malware ini menyebar dengan memanfaatkan kerentanan sistem yang disebut EternalBlue. Hal ini mungkin terjadi karena sebuah phishing yang menyebar lewat email, sekali korban mengklik file tersebut, maka komputer akan langsung terkena virus ransomware. Pemerintah secara resmi mengatakan bahwa mereka tidak akan membayar uang tebusan pada penjahat di balik serangan tersebut.
Selain itu, Avast security blog juga melaporkan bahwa program antivirus yang baik bisa mendeteksi semua versi WanaCryptor 2.0. Namun, mereka juga merekomendasikan pengguna untuk memperbarui sistem mereka dengan patch terbaru yang tersedia.